Kebangkitan (Kaum Muda) Nasional

Kebangkitan (Kaum Muda) Nasional

Oleh : H. Thoriqul Haq, MML(Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur serta Sekretaris DPW PKB Jawa Timur)

Tidak bisa disangkal, riwayat sudah menulis dengan tinta emasnya, jika peranan golongan muda dalam perjuangan kehidupan berbangsa serta bernegara di republik ini sering jadi penentu. Golongan muda yang selanjutnya sama dengan mahasiswa serta santri sudah memperlihatkan jati diri serta keberadaannya dalam menjaga perjalanan perjuangan berkebangsaan Indonesia, gerakan golongan muda dapat menjatuhkan kekuasaan otoriter di nusantara ini, dari mulai kekuasaan imprealis atau otoritarianisme pemerintah Indonesia sendiri. Tidak salah jika Pemeo classic, agent of change serta agent of social control tetap lekat pada golongan muda kita.

Masa kesadaran itu mulai ada di tahun 1908, yang dipelopori oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Dr. Sutomo, Dr. Cipto Mangunkusomo, dengan rasio pergerakan lokal untuk perjuangkan pendidikan, kebudayaan, serta pertanian. Munculnya rumor pergerakannya mendekati terciptanya Volksraad di tahun 1918 yang selanjutnya jadi cikal akan terciptanya Boedi Oetomo (BO).

Selanjutnya, di tahun 1928 ada organisasi-organisasi gerakan yang namanya Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, dan sebagainya. Dengan dipelopori oleh Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, J. Leimena, serta WR. Supratman, pergerakannya ini membuat loyalitas bersama-sama pada tanggal 1 Oktober 1928 lewat Kongres Pemuda yang diketahui dengan Sumpah Pemuda.

Saat kemerdekaan, gerakan golongan muda terus jadi pemicu perjuangan, serta jadi challenggers buat penguasa lali. Pergerakan mahasiswa 66 dengan tokohnya A.  Hal sama dilaksanakan pemuda angkatan 98 dengan 1 kata saktinya Reformasi. Pergerakan mahasiswa ini dapat menjatuhkan kemampuan pemerintahan orde baru yang sudah berkuasa semasa 32 tahun lamanya.

Tetapi, demikian romantisme yang menemani cara mahasiswa tidak lepas dari batu serta krikil yang mengganggu perjalanan pergerakannya. Dapat dibuktikan, mahasiswa seolah cuman dapat menggulingkan pemerintahan saja. Kebalikannya golongan muda Indonesia dengan cara kolektif belum dapat menjaga Indonesia pada keadaan peralihan demokrasi.

error: Content is protected !!