Raup Laba di Tengah Pandemi

Raup Laba di Tengah Pandemi

Industri perbankan syariah mencatat performa positif ditengah-tengah epidemi Covid-19. Tetapi, beberapa rintangan harus dijawab aktor industri perbankan syariah sekarang ini. Diantaranya, harus terus meningkatkan usaha tingkatkan tingkat inklusi serta literasi keuangan syariah warga.

Ketua Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Toni EB Subari menjelaskan, rintangan buat aktor perbankan syariah yaitu tingkatkan rasio inklusi serta literasi keuangan syariah warga. Karena dengan cara ide, service yang ditawarkan perbankan syariah jelas tidak sama dengan bank konservatif.

Pria yang memegang untuk Direktur Penting Bank Mandiri Syariah ini menerangkan, usaha perbankan syariah dikatakannya searah dengan konsep keuangan berkepanjangan yang memprioritaskan peningkatan manusia, alam, dan keuntungan (people, planet, keuntungan). Ketidaksamaan yang lain, tiap keuntungan bersih bank syariah telah dipotong zakat 2,5 %.

Menurut Toni, hal itu memperlihatkan ada kesetimbangan bank syariah dalam meraih keuntungan dan bawa faedah buat warga ditengah-tengah epidemi corona.

“Contoh, pada 2019 lantas Mandiri Syariah mengalirkan zakat sejumlah Rp 44 miliar dari keuntungan yang didapat.

Pengakuan itu diamini Ekonom serta Kepala Eksekutif Instansi Penjamin Simpanan (LPS) 2015-2020, Fauzi Ichsan. Menurut dia, data-data serta situasi sekarang ini memperlihatkan jika industri perbankan syariah memang mempunyai kekuatan bertahan dari semua efek negatif yang muncul karena epidemi.

Dari bagian pembiayaan, perbankan syariah tumbuh bertambah cepat dibandingkan perkembangan credit perbankan umum, serta ini dibantu perkembangan dana faksi ke-3 yang tinggi.

“Dengan kemerosotan bagian finansial global tetapi perbankan syariah masih resilient.

Direktur Utana Bank Syariah Mandiri Toni E. B Subari mengatakan, pencapaian keuntungan yang semakin tinggi didukung oleh pendistribusian credit dan Dana Faksi Ke-3 (DPK) yang tinggi.

Data Bank Syariah Mandiri mencatat nilai pembiayaan capai Rp 76,66 triliun atau tumbuh 6,18 %. Selanjutnya, dana faksi ke-3 (DPK) capai Rp 99,12 triliun atau tumbuh 13,17 % yoy.

“Alhamdulillah baik pembiayaan, asset, DPK, relatif baik,” tuturnya.

error: Content is protected !!